March 28, 2019

First Impression: Mitsubishi Outlander PHEV

First Impression: Mitsubishi Outlander PHEV

KENDARA.ID - Jelas bukan kesempatan semua orang untuk mengendarai mobil PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) di Indonesia, mengingat jumlah mobil PHEV ataupun listrik murni yang masih sedikit di Indonesia. Beruntung, kami mendapat kesempatan untuk mencoba salah satunya.

Ya, kunci Mitsubishi Outlander PHEV sudah berada di tangan kami. Sayang, waktu pengetesan yang diberikan tak banyak, sehingga kami tak bisa banyak bercerita kepada Anda.

Kami pun ‘melompat’ ke dalam Outlander PHEV ini untuk merasakan impresi berkendaranya.

Exterior

Well, eksterior mobil ini bukanlah yang terbaik di kelasnya. Umur desain Outlander PHEV yang sudah mencapai 7 tahun mulai menunjukkan usianya. Di sisi lain, ia mencoba terlihat futuristik dengan penggunaan lampu dual projector LED dan desain Dynamic Shield ala Mitsubishi.

Peleknya menggunakan ukuran 18 inci dengan desain cukup futuristik. Untuk warna, peleknya dilabur warna two-tone. Mobil ini juga tidak terlihat tinggi walaupun ia adalah sebuah SUV. Apakah karena ia didesain untuk pasar Jepang dan Eropa?

Di belakang, impresinya sama seperti di depan. Walaupun berusaha tampil futuristik dengan lampu LED, ia tetap terlihat polos. Eits, ini juga memberikan kelebihan, Outlander PHEV jadi tak terkesan norak dengan ornament yang berlebihan.

Jika Anda menilai desainnya terlalu plain untuk sebuah mobil ‘masa depan’, tunggu dulu. Unit ini bukanlah versi terbaru dari Outlander PHEV. Versi terbarunya (baca : facelift kedua) bisa Anda lihat di bawah ini.

Menurut kami, facelift kali ini cukup membantu tampilannya. Bagaimana menurut Anda?

Interior

Saat kami membuka kunci pintu (tentu saja sudah smart key) ada sesuatu yang familiar. Ya, kunci mobil ini common parts dengan Mitsubishi lain, seperti Xpander dan Pajero Sport.

Melihat dashboardnya, desainnya terasa membosankan. Yang membuatnya terlihat unik hanya dua : tuas transmisinya dan panel instrumennya. Kami sangat suka bentuk tuas transmisinya, terlihat keren namun juga fungsional. Di bawah tuas transmisinya ada dua tombol, yaitu SAVE dan CHARGE. Tombol SAVE berfungsi untuk menyimpan tenaga baterai, kalau-kalau Anda ingin menggunakannya di saat tertentu saja. Tombol CHARGE berfungsi untuk menyalakan mesin bensin-tapi untuk mengisi daya baterai.

Selain panel instrumen dan tuas transmisi, desain dashboardnya terlihat kurang menarik. Beruntung Mitsubishi memberikan material dan fit and finish yang baik di panel-panel interiornya. Banyak juga common parts yang digunakan pada Outlander PHEV, seperti setir dan panel AC yang diambil dari Pajero Sport.

Impresi berkendara

Seperti mobil hybrid elektrik lain, tidak ada suara apa-apa ketika dinyalakan. Saat memulai pengetesan, kami lihat jarak tempuh maksimal dalam mode EV-nya sekitar 36 km. Rasa penasaran kami memuncak, seberapa jauh mobil ini dapat berjalan hanya dengan mode EV?

Kami memutuskan untuk ‘menantang’ mobil ini dengan kemacetan Jakarta di siang hari.

Saat pertama kali mengendarai Outlander PHEV, hal yang pertama muncul adalah rasa aneh. Bagaimana tidak, Anda berkendara tanpa suara sama sekali, hanya desingan motor listrik. Jika Anda berada pada jalan yang ramai pejalan kaki, mungkin Anda harus sering membunyikan klakson karena bunyi mobil Anda tak terdengar.

Untuk kenyamanan, mobil ini unggul di kelasnya. Karakter suspensinya tak memantul atau mengayun, tapi juga tidak keras. Ditambah dengan akomodasi yang lega, sepertinya cruising jarak jauh akan cukup nyaman dengan Outlander PHEV. Oya, ia hanya 5 seater, bukan 7 seater seperti Outlander bermesin bensin.

Di sisi lain, kami cukup kecewa dengan handlingnya. Ya, SUV memang dibuat bukan untuk menikung tajam ataupun bermain di sirkuit, tapi setidaknya kami mengharapkan pengendalian yang lebih baik dari ini. Di kecepatan rendah, ia masih terasa nyaman dan tak ada getaran yang mengganggu. Namun pada kecepatan tinggi, ia mulai terasa goyah di jalanan. Setirnya pun terasa hambar dan sangat sedikit feedback, membuat kami agak ragu berpindah jalur pada kecepatan tinggi. Namun ini memberikan satu kelebihan : setirnya yang ringan enak untuk meliuk di kemacetan dan saat parkir.

Salah satu yang unik pada Outlander PHEV adalah mode regenerative brakingnya. Ia memiliki 6 mode regenerative braking yang dapat diganti-ganti melalui paddleshift. Ada B0 sampai B5, dimana B5 adalah yang paling kuat pengeremannya. Kami sendiri cukup kikuk saat mencoba mengganti mode regenerative brakingnya.

Selesai mengutak-atik fitur, kami pun segera berjalan dari tempat parkir. Jarak tempuh EV masih menunjukkan 36 km. Kami mengatur mode regenerative braking di mode B3. Karena ini adalah pengetesan jarak tempuh, kami bersyukur masih ada mesin 2.000cc-nya yang dapat membantu kami agar tidak malu-maluin kalau habis baterai di jalan.

Terus terang, kami sangat percaya diri ketika pengetesan. Kami yakin mobil ini mampu meraih jarak di atas 36 km yang tertera di MID. Sayangnya, regenerative braking dan motor listrik kalah dengan kemacetan Jakarta. Pada jarak 27.3 km di tripmeter, mesin menyala. Di Outlander PHEV, transisi dari motor listrik ke mesin bensinnya cukup halus suaranya, namun masih terasa sedikit getarannya.

Jadi, apakah mobil ini cocok untuk Indonesia?

Kesimpulan

Kami suka dengan mobil ini. Jika mobilitas Anda kurang dari 45km (klaim Mitsubishi) dalam sehari, Anda bisa bilang selamat tinggal pada pom bensin. Dengan catatan kalau tidak ada macet. Cukup charge di rumah pada malam hari. Tentu saja Anda tak bisa mengisi dayanya dengan powerbank.

Untuk Anda yang menginginkan SUV keluarga tapi malas mengeluarkan uang untuk bensin, ini jawabannya. Kriteria sebuah SUV terpenuhi disini. Nyaman, lega, dan tentunya bisa ‘sedikit’ offroad karena sudah AWD. Bagi yang menginginkan SUV dengan pengendalian bagus, pindahlah ke SUV lain.

Namun Anda belum bisa merasakan mobil ini, walaupun Anda membawa uang 1 miliar ke dealer Mitsubishi. Kenapa? Karena mobil ini belum dijual.

Solusi : kalau sudah kepingin punya, bawalah uang 1 miliar Anda ke importir umum.