May 25, 2019

Mengupas Pajak Kendaraan Hybrid

Mengupas Pajak Kendaraan Hybrid

KENDARA.ID - Kendaraan hybrid yang menggabungkan mesin pembakaran dalam dengan daya listrik untuk menghasilkan kendaraan ramah lingkungan dan memiliki efisiensi bahan bakar yang mumpuni bukanlah barang baru di masyarakat. Di Indonesia sendiri, kendaraan hybrid sudah dijual sejak dekade 2000-an dengan dijualnya Toyota Prius. Namun, kendaraan hybrid di Tanah Air memiliki citra yang jauh berbeda dibandingkan di bagian lain dunia. Bila di bagian lain dunia mobil hybrid erat kaitannya dengan kendaraan ramah lingkungan yang menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan kendaraan bermesin bensin/diesel biasa, di Indonesia kendaraan hybrid dianggap sebagai barang baru yang harganya tidak murah dan hanya dikonsumsi kalangan tertentu.

Salah satu sebab mengapa kendaraan hybrid memiliki harga yang tidak dapat dikatakan terjangkau menurut standar rata-rata orang Indonesia adalah dari perpajakannya. Sesuai hukum Indonesia, kendaraan bermotor merupakan objek Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), yaitu suatu pajak yang dibebankan di atas Pajak Pertambahan Nilai atas konsumsi barang kena pajak yang tergolong mewah. Saat ini, Pajak Penjualan atas Barang Mewah untuk golongan kendaraan bermotor diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor Yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah (diubah sebagian oleh Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor Yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah).

Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) huruf a dan b Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2013, kendaraan hybrid dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebesar 50% atau 75% bergantung konsumsi bahan bakar minyaknya. Hal ini dapat menjelaskan mengapa kendaraan hybrid memiliki harga yang jauh lebih mahal dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin/diesel biasa.

Sebagai contoh, Toyota Camry 2.5 V memiliki harga Rp 649.450.000,00 dengan kondisi OTR DKI Jakarta per bulan April 2019, sementara Camry 2.5 Hybrid memiliki harga Rp 809.400.000 dengan kondisi OTR DKI Jakarta per bulan April 2019. Salah satu hal yang mendasari perbedaan harga yang cukup jauh ini, selain perbedaan pada kelengkapan, teknologi, dan profit margin, adalah fakta bahwa kedua mobil ini memikul beban pajak yang persentasenya cukup berbeda jauh. Berdasarkan PP Nomor 41 tahun 2013 (sebagaimana diubah PP Nomor 22 tahun 2014), sedan dengan kubikasi silinder antara 1.500 cc hingga 2.500 cc memiliki tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebesar 40% dari harga jual, sementara Camry 2.5 Hybrid, sebuah kendaraan hybrid yang mampu menempuh 24 hingga 28 kilometer per liter BBM, dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebesar 75% dari harga jual.

Berkenaan dengan perpajakan untuk kendaraan, saat ini pemerintah (dalam hal ini Kementerian Keuangan, DPR, dan Kementerian Perindustrian) tengah menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah mengenai skema pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang baru dan lebih sederhana. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, skema baru pengenaan PPnBM ini akan didasarkan pada kadar emisi dan konsumsi bahan bakar, dengan harapan peraturan baru ini dapat mendorong industri otomotif di Tanah Air, terutama untuk kendaraan ramah lingkungan.