KENDARA.ID – Apakah kalian sedang berniat membeli mobil listrik atau mobil hybrid baru dalam waktu dekat? Jika iya, kalian pasti menyadari bahwa pilihan mobil ramah lingkungan kini makin beragam di pasar otomotif nasional.
Untuk membantu masyarakat menemukan pilihan terbaik, Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) kembali menggelar Dialog Otomotif Nasional yang kedua. Forum ini berlangsung dalam rangkaian pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City. Diskusi ini mengusung tema “The Right Fit for Indonesia: Teknologi Elektrifikasi Seperti Apa yang Dibutuhkan Indonesia?”.

Acara yang didukung oleh Seven Event ini dihadiri sekitar 80 peserta. Para peserta terdiri dari jurnalis media otomotif, media bisnis, media umum, serta perwakilan industri otomotif.
Penyelenggaraan dialog ini sangat penting karena pasar mobil ramah lingkungan tumbuh pesat. Pada semester pertama tahun 2026, penjualan mobil penumpang elektrifikasi naik 68 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pangsa pasarnya pun melonjak dari 23 persen menjadi 38 persen. Angka ini membuktikan bahwa kalian dan masyarakat Indonesia mulai beralih ke kendaraan elektrifikasi lebih cepat dari perkiraan.
Bukan Mencari yang Terunggul, Tapi yang Paling Sesuai
Saat membuka acara, Munawar Chalil, Ketua Umum Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS), menegaskan tujuan utama forum ini. Menurutnya, acara ini bukan tempat untuk mengadu teknologi mobil listrik mana yang paling unggul.

“Indonesia tidak membutuhkan perdebatan mengenai teknologi mana yang paling unggul, tetapi yang ingin kita cari bersama adalah teknologi, atau bahkan kombinasi teknologi, yang paling tepat untuk Indonesia. Itulah semangat yang ingin dibangun melalui forum ini,” ujar Munawar Chalil.
Apresiasi juga disampaikan oleh Sri Vista Limbong, mewakili Seven Event selaku penyelenggara GIIAS. Ia menyambut baik forum ini karena dapat memperkaya diskusi mengenai masa depan industri otomotif nasional.
Konsumen Memilih Berdasarkan Kebutuhan Pribadi
Diskusi panel ini menghadirkan para pemimpin industri otomotif dari berbagai merek. Hadir dalam sesi ini Philardi Sobari mewakili prinsipal otomotif asal Jepang. Selain itu, hadir pula Ricky Christian, Constantinus Herlijoso, dan Arie Hermawan yang mewakili prinsipal otomotif asal Tiongkok.
Forum ini juga menghadirkan Joshua Pardede, Pengamat Kebijakan Ekonomi Perbanas. Dari kacamata ekonomi, Joshua menilai bahwa konsumen sebenarnya sudah tahu teknologi elektrifikasi Indonesia mana yang paling pas buat mereka.
“Kenaikan serentak ketiga teknologi elektrifikasi (BEV, HEV dan PHEV) menunjukkan bagaimana konsumen memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan pola penggunaan kendaraan tersebut secara pribadi, bukan memilih satu teknologi yang paling unggul,” kata Joshua Pardede.
Artinya, pilihan bergantung pada kebutuhan harian kalian. Jika kalian sering berkendara di dalam kota dengan akses charging station yang mudah, mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle / BEV) bisa jadi pilihan tepat. Namun, jika kalian sering bepergian jauh tanpa ingin mengantre pengisian daya, teknologi Hybrid Electric Vehicle (HEV) atau Plug-in Hybrid (PHEV) tentu lebih fleksibel.
Membangun Masa Depan Otomotif yang Berkelanjutan
Selain membahas jenis teknologi elektrifikasi Indonesia, diskusi interaktif ini juga mengulas kesiapan infrastruktur, tantangan industri, perilaku konsumen, dan arah kebijakan pemerintah. Para peserta memanfaatkan sesi ini untuk bertanya serta menyampaikan pandangan secara langsung.

Melalui dialog ini, ICMS berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, produsen, dan media makin kuat. Bagi para pengendara, kolaborasi ini diharapkan dapat menghadirkan ekosistem kendaraan listrik yang lebih matang, terjangkau, dan aman untuk digunakan sehari-hari.
Jadi, dari ketiga jenis teknologi di atas, mana yang paling pas untuk mendukung aktivitas harian kalian?





