January 17, 2019

Sales Report Mobil Indonesia Jan-Des 2018

Sales Report Mobil Indonesia Jan-Des 2018

KENDARA.ID - Tahun 2018 sudah berakhir, dan terhitung sejak kemarin, (16/1), Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) telah merilis data retail dan wholesales otomotif roda empat di Indonesia. Data tersebut dapat diunduh dari files.gaikindo.com dengan catatan harus membuat akun terlebih dahulu.

Di laman tersebut, tersedia beberapa data. Beberapa diantaranya adalah data retail by brand, data wholesales by brand dan data wholesales per model mobil. Kami akan menggunakan kedua data terakhir untuk kami sajikan disini. Harap dipahami, retail dan wholesales angkanya cukup berbeda karena retail adalah penjualan mobil dari dealer dan konsumen, sementara wholesales adalah penjualan mobil dari gudang atau pabrik menuju dealer. Retail memang lebih relevan menggambarkan kondisi sesungguhnya, namun sayangnya Gaikindo tidak pernah merilis data retail per model, hanya per merek.

Perlu diketahui, ada beberapa merek mobil yang mundur atau tidak gabung dalam GAIKINDO, beberapa diantaranya adalah Kia, Mercedes-Benz dan Geely. Maka, data ketiga pabrikan tersebut tidak tersedia.

Data Wholesales by Brand

Data ini merupakan data wholesales per merek. Keterangan: tabel putih merupakan pabrikan yang menjual kendaraan komersial sepenuhnya.

Tercatat wholesales kendaraan roda empat Indonesia 2018 tembus angka 1.151.291 unit, sementara retail mencatatkan angka 1.152.641 unit. Sebagai perbandingan, tahun 2017 wholesales berada di angka 1.077.365 unit serta retail di angka 1.067.396 unit. Artinya, wholesales dari 2017 ke 2018 mengalami pertumbuhan 6,86%, sementara angka retail tumbuh sebesar 7,98%.

Di sales report ini, kami juga akan menyajikan data per segmen. Namun sebelum itu, kami ingin menyajikan Top 10 wholesales 2018 dan Top 10 CBU 2018.

Top 10 Wholesales Indonesia 2018

Seperti yang anda bayangkan, Toyota Avanza masih merupakan mobil terlaris Indonesia, belum terkalahkan. Mampu terjual sebanyak 82.167 unit, angka tersebut merupakan 7,1% dari seluruh wholesales roda empat Indonesia di 2018.

Top 10 CBU Wholesales Indonesia 2018

Dan berikut diatas adalah 10 mobil impor terlaris di Indonesia.

Low Cost Green Car

Toyota Calya adalah market leader di kelas LCGC di tahun 2018 dengan market share sebesar 27,8%, disusul Daihatsu Sigra dengan share 22,1% dan Honda Brio Satya dengan share sebesar 20,3%. Ini menunjukkan minat masyarakat Indonesia yang tinggi terhadap mobil 7 penumpang dengan harga terjangkau.

Di 2018, tercatat mobil yang mengalami penyegaran di segmen ini adalah duo Datsun GO dan Datsun GO+ di bulan Mei, serta Brio Satya di bulan Agustus (pengiriman Oktober).

Low & Compact MPV

Nah, di 2018 inilah segmen yang paling seru klasemennya. Segmen ini untuk keperluan pendataan merupakan campuran dari Low MPV dan Compact MPV, maka dari itu ada Sienta dan Cortez 1.5.

Di segmen ini, pertempuran berat antara Toyota Avanza dan Mitsubishi Xpander begitu intens. Xpander berhasil mengungguli Avanza di bulan Februari-Mei berturut-turut dan Juli-September juga berturut-turut. Sayang, pabrik Mitsubishi aslinya hanya punya kapasitas 80.000 - dengan alokasi 60.000 untuk pasar domestik dan 20.000 untuk ekspor ke Thailand, Filipina, Bolivia dan Mesir. Alhasil, dengan turunnya durasi inden di akhir tahun produksi Xpander difokuskan untuk ekspor yang mengakibatkan penjualannya jatuh dibawah Avanza. Hasil akhirnya, Avanza menang dengan market share 31,3%, Xpander sharenya 28,6% di segmen MPV dengan kapasitas dibawah atau sama dengan 1.500 cc ini.

Highlight lainnya adalah wholesales Mobilio yang merana di akhir tahun hingga tersalip oleh Wuling Confero. Di tahun 2018 pendatang baru di segmen ini adalah Wuling Cortez 1.5 di bulan April (pengiriman Mei), ada Grand Livina dan Mobilio yang mendapatkan Special Edition, Xpander varian baru dan warna baru di Agustus serta tak lain dan tak bukan adalah kehadiran All New Ertiga di bulan April (pengiriman Mei).

Medium Van & MPV

Di segmen medium van & MPV, sudah pasti Kijang Innova adalah rajanya. Dengan total wholesales sebesar 59.630 unit, ia mendominasi segmen ini dengan market share 81,4%. Oh iya, segmen ini adalah gabungan dari segmen medium MPV dan medium van (Voxy, Biante, Serena, Delica, H-1) untuk memudahkan pendataan.

Kenapa H-1 masuk medium van? Bukankah ia berukuran besar? Jawabannya, kami menempatkannya disini lebih karena harga. Soalnya, diatas itu hanya ada Luxury Van yang mana ditempati oleh Alphard dkk.

Di segmen ini yang mengalami penyegaran di 2018 adalah Hyundai H-1 dengan fascia barunya. Sementara pendatang baru ada Wuling Cortez, yang mulai dikirim ke dealer dari Januari 2018 dan launching bulan Februari. Yang mundur dari pasar Indonesia adalah Mitsubishi Delica D:5, yang harus say goodbye karena penjualannya yang tidak memuaskan.

Low SUV 5-Seater

Honda HR-V, seperti biasanya, mendominasi segmen low SUV 5-seater. Bagaimana tidak, 86,4% dari total wholesales kelas ini di 2018 disumbang oleh HR-V sendirian.

13,6% sisanya dibagikan ke SX4, Trax, CX-3, C-HR, Duster dan Juke. Di 2018, yang mengalami perubahan adalah HR-V yang mendapatkan facelift, dan CX-3 dengan minor change. Sementara pendatang baru ialah Toyota C-HR di bulan April (pengiriman Mei).

Low SUV 7-seater

Kalau kelas low SUV 7-seater, umumnya kini hanya didominasi Rush dan Terios. Toyota Rush sendiri di segmen ini menggaet market share 58,1%, Daihatsu Terios meraih angka 33,5% dan terakhir Honda BR-V hanya mampu menguasai segmen sebesar 8,4%.
Kondisi BR-V, walaupun dengan improvement di bulan April, penjualannya kurang memuaskan. Di 2018, selain improvement yang dilakukan Honda kepada BR-V, Daihatsu juga melengkapi line-up Terios dengan varian terbatas, Custom di bulan Agustus.

Medium SUV

Kelas Medium SUV ini cenderung didominasi oleh Honda CR-V yang mencatatkan market share sebesar 75,2%. Diikuti dengan Mazda CX-5 yang menguntit CR-V cukup jauh, dengan market share hanya 9,3%. 15,5% dari market share sisanya diperebutkan oleh 10 SUV lainnya dari beragam merek.

Dari sini, dapat terlihat sifat masyarakat Indonesia yang cenderung memilih satu model yang sama dari sekian banyak yang ada. Memang, faktor lain juga mendukung, seperti rival yang punya model lawas (X-Trail, Outlander Sport, Grand Vitara), atau aftersales yang kurang luas (Mazda, Volkswagen, Hyundai, Chevrolet) atau bahkan merek yang jatuh pada kategori 'merek tidak jelas' oleh mayoritas masyarakat Indonesia seperti DFSK, Peugeot dan Renault.

Di tahun 2018, CX-5 kedapatan varian baru yaitu Touring yang diimpor dari Malaysia serta hadirnya Peugeot 3008 dan 5008 generasi baru. Sisanya tidak ada perubahan. Sementara, ada pendatang baru yaitu DFSK Glory 580 yang berhasil terjual 614 unit dari awal kehadirannya. Ada juga SUV yang harus meninggalkan pasar yaitu Chevrolet Captiva yang dihentikan produksinya secara global.

Large SUV

Kategori ini tentu saja didominasi Fortuner dan Pajero Sport yang masing-masing mencapai angka market share 48,2% dan 47,1%, beda tipis sekali hanya terpaut 484 unit. Lalu muncullah Nissan Terra yang baru dua bulan jualan sudah masuk peringkat ketiga dengan angka 791 unit. Sisanya memang sedikit suram dibandingkan SUV Jepang tersebut.

"Lho, kenapa Santa Fe masuk sini? Bukankah harusnya medium SUV?" itulah yang sering menghiasi kolom komentar Instagram kami ketika kami posting data wholesales Large SUV ini. Karena, dibawah Santa Fe ada Tucson dan Tucson ada di kelas medium SUV, sehingga tidak masuk akal memasukkannya ke dalam satu kategori. "Tapi bukankah Tucson sekelas HR-V?" Jawaban dari pertanyaan ini adalah anda harus memahami positioning SUV Hyundai secara global. Pesaing HR-V dari Hyundai adalah Hyundai Kona dan Hyundai Creta. Diatasnya, berarti pesaing CR-V dan kawan-kawan adalah Tucson. Baru diatasnya lagi Santa Fe. Hal lain yang memotivasi kami memasukkan Santa Fe di kelas Fortuner-Pajero Sport adalah ukuran, bangku baris ketiga yang masih manusiawi serta pilihan mesin diesel (dengan tenaga diatas rivalnya).

City Car

Seperti halnya segmen-segmen sebelumnya, masyarakat Indonesia hanya terpaku pada satu-dua mobil tertentu dalam satu segmen. Di segmen city car alias mobil kecil dengan kapasitas mesin dibawah atau sama dengan 1.300 cc non-LCGC, Suzuki Ignis dan Honda Brio RS mendominasi dengan market share masing-masing 43,6% dan 39%.

Wholesales Suzuki Ignis di akhir tahun sendiri sempat jatuh karena adanya instruksi Kemenperin untuk mengurangi kuantitas impor. Seperti kita ketahui, Suzuki Ignis diimpor utuh dari India dan merupakan mobil impor terlaris di 2018. Wholesales Brio hanya 1 di bulan September karena sedang dalam proses produksi All New Brio yang dikirim ke konsumen mulai bulan Oktober.

Catatan lain juga kami berikan kepada Datsun Cross yang punya angka wholesales 2.233 unit di bulan Maret dan 60 unit di bulan April hingga Desember. Artinya, pihak Datsun entah terlalu pede dengan Cross atau sengaja memproduksi banyak untuk sepanjang tahun. Lalu ada wholesales Sirion yang menunjukkan angka 0 unit di Oktober karena adanya bottleneck di pabrik Perodua di Malaysia yang memproduksi Sirion. Catatan, pada data Gaikindo tidak ditemukan adanya data wholesales Datsun GO CVT yang mana bukan merupakan LCGC. Kami rasa ada kesalahan data disini, bukannya tidak ada yang beli, dimana mereka lupa memasukkan Datsun GO CVT.

Di tahun 2018, ada kedatangan Ignis Sport Edition (Januari), Datsun Cross (Februari, pengiriman Maret), Daihatsu Sirion generasi baru (Februari), generasi baru Brio (Agustus, pengiriman Oktober), Chevrolet Spark facelift (Agustus), Datsun GO CVT (Mei) dan Datsun GO Live (September, pengiriman November).

Hatchback

Di kelas Hatchback, alias small Hatchback, Honda Jazz menjadi rajanya dengan angka 14.270 unit, dengan market share 45,4% disusul dengan Yaris di angka 31,9% serta Baleno 17,4%.

Catatan saja, untuk bulan Januari 2018 Yaris hanya dalam masa penghabisan stok Yaris lama sehingga hanya menghasilkan angka 21 unit. Lalu untuk Baleno di bulan Oktober dan November distop impornya untuk sementara atas instruksi dari Kemenperin.

Di tahun 2018, satu-satunya hatchback dengan penyegaran adalah Toyota Yaris yang mendapatkan major change, dan peningkatan fitur besar-besaran. Meski begitu, Yaris harus takluk dari Honda Jazz, sang penguasa pasar sejak 2004.

Medium Hatchback

Untuk kelas medium hatchback, kelas ini sangat didominasi Honda Civic Hatchback dengan market share sebesar 89,8%, lalu dibawahnya ada Mazda 3 yang terpaut jauh dengan market share hanya 10%, dan sisa 0,2% untuk VW Golf.

Fun fact, wholesales VW Golf TSI ini kalah dengan VW Golf GTI 2.000 cc. 15 unit Golf GTI telah mencapai Indonesia di 2018. Mengapa Golf tidak laku? Menurut kami, karena harganya lebih mahal dari VW Tiguan, yang mana jadi tidak masuk akal apabila memilih VW Golf ini.

Small Sedan

Memang, karena volumenya terus menurun, segmen small sedan (atau sedan pada umumnya) terus mengecil pesertanya. Dahulu, kita punya Chevrolet Kalos, Suzuki Baleno (lalu jadi Ciaz), Ford Fiesta Sedan, Mazda 2 Sedan, serta Peugeot 207 sedan. Yang survive hanya dua legenda ini, musuh bebuyutan dari 2003, Vios dan City.

Di 2018, angka wholesalesnya beda sangat tipis. Apalagi, Vios tidak lagi dijadikan taksi sehingga kompetisinya lebih terasa nyata. Honda City meraup market share 50,6% dan Toyota Vios dapat 49,4%. Sebagai informasi, bulan April Toyota Vios mendapatkan major change sehingga bulan Januari hingga Maret kosong karena hanya penghabisan stok yang ada. Fun fact lagi, Vios adalah satu-satunya sedan yang dirakit di Indonesia.

Medium Sedan

Setali tiga uang dengan segmen small sedan, peserta kelas medium sedan juga terus menciut hingga menyisakan dua legenda saja. Padahal, dulu ada Mitsubishi Lancer, Mazda 3 sedan, Ford Focus, Chevrolet Cruze, Proton Preve serta Peugeot 408.

Bedanya dengan small sedan tadi, Honda unggul telak dengan jagoannya, Civic. Dengan market share 75,4%, Civic jadi primadona di sedan kelas Rp 400 jutaan. Namun, hati-hati karena tahun ini akan ada All New Corolla Altis.

Large Sedan & Estate

Di segmen large sedan, Toyota Camry dengan citra pejabatnya berhasil menguasai pasar dengan market share 52,1%. Lalu ada Mazda 6 dan Mazda 6 Estate yang bulan Agustus 2018 lalu sudah facelift berhasil dapat angka total 425 unit, 347 sedan dan 78 estate.

Varian Estate dari Mazda 6 padahal lebih murah Rp 100 jutaan dengan kelengkapan yang beda tipis, akibat perbedaan pajak. Mazda 6 Estate dapat dikategorikan menjadi minibus, hal ini menekan pajaknya dari 30% menjadi 10% saja. Tetap saja, penjualannya kalah dengan versi sedannya.

Tahun 2019 akan menarik bagi segmen ini karena sudah ada All New Camry, dan menyusul All New Accord dan All New Teana yang keduanya sudah tiba di Thailand.

Luxury Van

Tentu saja, segmen ini identik dengan Alphard-Vellfire. Makanya, masing-masing dari mereka bisa meraup market share 82% dan 17,3%, yang mana belum termasuk versi importir umum yang jelas tidak tercatat di angka penjualan. Menyisakan 0,7% untuk Nissan Elgrand dan Volkswagen Multivan/Caravelle.

Sayang sekali, angka wholesales Multivan sudah layaknya angka binary, hanya menunjukkan angka 1 dan 0 kecuali ada angka 2 terselip. Padahal Multivan bukan mobil kaleng-kaleng.

Double Cabin

Segmen double cabin, sama halnya dengan large SUV, cuma dualitas Mitsubishi-Toyota belaka. Triton dan Hilux masing-masing mampu membukukan market share sebesar 52% dan 40,2%. Tentu sebagai sebuah double cabin yang sering nguli secara harfiah, durabilitas dan spare part harus terjamin dan keduanya sudah membuktikan hal tersebut.

Di tahun 2018 sendiri, yang baru dari segmen ini hanya Chevrolet Colorado Centennial Edition.

Small Van

Sebagai segmen yang kerap terlupakan, kami tidak mau melupakan segmen ini. Apalagi, segmen ini baru kedatangan pemain baru yaitu Wuling Formo yang dalam tiga bulan melepas 83 unit.

Seperti yang anda bayangkan, Gran Max menguasai pasar dengan market share 67,3%. Lalu ada Suzuki APV, yang di data Gaikindo tidak ada data untuk blind van-nya. Kami rasa dicampur dengan varian GE, maka dari itu tidak kami berikan rincian.

Nah, Suzuki Carry sendiri sistemnya sudah by order, alias hanya dibuatkan apabila ada yang pesan alias tidak menyimpan stok. Sebagai minibus purba, fakta ini tidak mengejutkan karena kami juga heran mengapa masih ada yang mau beli Carry ini di 2018.