KENDARA.ID – Raksasa otomotif BYD bersiap meluncurkan varian plug-in hybrid terbaru mereka, yaitu BYD Atto 2 DM-i.
Kabar ini bukan sekadar rumor belaka. Dokumen sertifikasi resmi dari Pemerintah Australia menunjukkan bahwa SUV kompak ini sudah mengantongi lampu hijau. Oleh karena itu, peluncurannya di ruang pameran diprediksi tinggal menghitung minggu saja.
Lantas, apa saja keunggulan yang dibawa oleh mobil ramah lingkungan ini? Mari kita bedah bersama detailnya.
Harga BYD Atto 2 DM-i Siap Dobrak Pasar Australia
Berdasarkan laporan dari media otomotif Drive, mobil ini kemungkinan besar akan mengaspal pada kuartal ketiga tahun 2026. Meskipun demikian, pihak pabrikan belum merilis harga resminya secara global.
Namun, kita bisa melihat bocoran strategi harga yang ada di pasar Inggris. Di sana, varian BYD Atto 2 DM-i diposisikan jauh lebih murah daripada versi listrik murninya (BEV).
Oleh karena itu, para ahli memprediksi harganya akan berada di bawah $30.000 AUD atau sekitar Rp320 jutaan. Jika prediksi ini benar, maka mobil ini akan langsung merebut takhta sebagai PHEV termurah di Australia. Bahkan, harganya bisa lebih murah daripada Toyota Yaris Cross varian terendah.
Spesifikasi Mesin dan Pilihan Baterai

Pemerintah setempat telah menyetujui dua opsi kapasitas baterai untuk pasar lokal. Kedua varian tersebut menggunakan teknologi Blade Battery yang berpadu dengan mesin bensin 1.5 liter.
Berikut adalah detail spesifikasi teknis yang perlu kalian, para pengendara, ketahui:
1. Varian Standard (Baterai 7,8 kWh)
-
Tenaga Kombinasi: 122 kW
-
Akselerasi 0-100 km/jam: 9,1 detik
-
Jarak Tempuh Elektrik murni: 40 km (WLTP)
-
Total Jarak Jauh: Jarak kombinasi bisa mencapai 930 km.
2. Varian Flagship (Baterai 18,3 kWh)
-
Tenaga Kombinasi: 156 kW
-
Akselerasi 0-100 km/jam: 7,5 detik
-
Jarak Tempuh Elektrik murni: 90 km (WLTP)
-
Total Jarak Jauh: Jarak kombinasi menembus 1.000 km.
-
Konsumsi BBM: Hanya 5,1 liter per 100 km saat baterai habis.
Untuk pengisian daya, kedua tipe ini hanya mendukung AC Charging. Tipe Standard membutuhkan waktu 2 jam 42 menit, sedangkan tipe Flagship memakan waktu 3 jam 6 menit.
Desain Segar dan Fitur Kabin yang Melimpah
Jika kita melihat tampilannya, versi hybrid ini memiliki sedikit perbedaan visual daripada versi EV. BYD mengubah desain bumper depan dengan lubang udara yang lebih besar. Perubahan ini bertujuan untuk mengalirkan udara dingin ke mesin bensinnya secara maksimal.


Selanjutnya, interior mobil ini tetap menawarkan kemewahan yang luar biasa. Kalian, para pengendara, akan disuguhkan dengan berbagai fitur canggih seperti:
-
Layar multimedia berputar 12,8 inci.
-
Panel instrumen digital 8,8 inci.
-
Kursi depan elektrik dengan penghangat.
-
Panoramic glass roof yang mewah.
-
Fitur praktis seperti wireless charging dan NFC key.


Pernyataan Resmi Pabrikan
“Kehadiran dokumen homologasi pemerintah ini secara konsisten menjadi indikator utama bahwa peluncuran fisik kendaraan di jaringan diler lokal sudah di depan mata,” tulis analis eksekutif dari tim dokumen sertifikasi kendaraan Australia dalam laporan rilis tersebut.
Di sisi lain, perwakilan tim perencanaan produk regional menyampaikan, “Langkah ini merupakan bagian dari komitmen global kami untuk menghadirkan teknologi Super DM (Dual Mode) ke segmen yang lebih luas, memberikan fleksibilitas jarak tempuh yang luar biasa tanpa mengorbankan efisiensi bahan bakar.”
Akankah Menyusul BYD M6 DM di Indonesia?
Pertanyaan menariknya adalah apakah PT BYD Motor Indonesia juga akan memboyong mobil ini ke tanah air? Peluang tersebut tentu sangat terbuka lebar bagi pasar domestik.
Saat ini, konsumen di Indonesia masih sangat menyukai mobil hybrid karena tidak perlu khawatir tentang infrastruktur pengisian daya. Apalagi, belakangan ini berembus rumor hangat mengenai rencana peluncuran BYD M6 DM (Dual Mode/PHEV) di Indonesia.
Oleh sebab itu, kehadiran varian BYD Atto 2 DM-i bisa menjadi sinyal kuat bahwa BYD global memang sedang gencar menyerang pasar negara setir kanan. Jika masuk ke Indonesia dengan harga Rp300 jutaan, mobil ini tentu akan menjadi penantang berat bagi SUV Jepang.
Bagaimana tanggapan kalian, para pengendara? Apakah tertarik menunggu versi hybrid ini masuk ke Indonesia?



